Pendidikan

Peneliti UIN Suska Riau Kembangkan Agrivoltaik, Lahan Hasilkan Pangan dan Energi

9
×

Peneliti UIN Suska Riau Kembangkan Agrivoltaik, Lahan Hasilkan Pangan dan Energi

Sebarkan artikel ini
Peneliti UIN Suska Riau Kembangkan Agrivoltaik, Lahan Hasilkan Pangan dan Energi
Teks foto: Gerbang utama Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, lokasi pengembangan berbagai riset dan inovasi akademik di bidang pendidikan, sains, dan teknologi. (IR/HUC)

HarianUpdate.com | Pekanbaru – Perguruan tinggi terus mendorong lahirnya inovasi yang dapat menjawab tantangan global. Salah satunya dilakukan oleh para peneliti di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang tengah mengembangkan teknologi agrivoltaik, yakni sistem yang memadukan pertanian dengan pembangkit listrik tenaga surya.

Riset ini berangkat dari persoalan dunia yang kini dihadapkan pada kebutuhan energi yang terus meningkat, ancaman ketahanan pangan, serta keterbatasan lahan produktif. Para akademisi mencoba mencari solusi agar satu bidang lahan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

Melalui pendekatan agrivoltaik, lahan tidak hanya digunakan untuk menanam tanaman pangan, tetapi juga dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik dari panel surya.

Penelitian tersebut didukung pendanaan program BOPTN tahun 2025 dan melibatkan dosen serta mahasiswa lintas fakultas.

Dosen energi terbarukan Fakultas Sains dan Teknologi, Kunaifi, mengatakan bahwa riset ini bertujuan menguji kemungkinan pemanfaatan lahan secara ganda.

“Kami mencoba melihat bagaimana satu lahan dapat memberikan dua manfaat sekaligus, yaitu produksi pangan dan energi,” ujar Kunaifi kepada Harianupdate.com, Jumat (20/2/2026).

Dalam penelitian ini, tim membangun sistem agrivoltaik eksperimental dengan memasang panel surya pada struktur tertentu. Area di bawah panel tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya tanaman.

Selain membangun instalasi energi surya, para peneliti juga merancang sistem pemantauan lingkungan berbasis teknologi digital.

Beberapa sensor dipasang untuk memantau kondisi tanah dan lingkungan secara berkala, seperti suhu, kelembapan, tingkat keasaman tanah, serta intensitas cahaya matahari.

Penelitian ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa. Dua mahasiswa dari Fakultas Pertanian dan Peternakan serta Fakultas Sains dan Teknologi turut terlibat dalam proses pengumpulan data dan pengembangan sistem.

Tim peneliti juga mengembangkan teknologi pemantauan bernama ASICS (Agri Solar Intelligent Monitoring and Control System) yang berbasis Internet of Things.

Melalui sistem tersebut, data kondisi lahan dapat dipantau secara daring sehingga memudahkan peneliti dalam menganalisis hubungan antara panel surya dan pertumbuhan tanaman.

Salah satu peneliti, Putut Son Maria, menjelaskan bahwa sistem pemantauan khusus agrivoltaik masih jarang tersedia.

“Karena itu kami mencoba merancang sistem yang memang disesuaikan dengan kebutuhan penelitian agrivoltaik,” katanya.

Sementara itu, peneliti bidang pertanian Novita Hera menyebutkan bahwa penggunaan sensor membantu pemantauan tanaman secara lebih efisien.

“Melalui teknologi ini, kondisi tanah seperti pH, suhu, kelembapan hingga intensitas cahaya dapat dipantau melalui perangkat digital,” jelasnya.

Hasil awal penelitian menunjukkan bahwa tanah yang berada di bawah panel surya cenderung memiliki suhu yang lebih rendah dan tingkat kelembapan yang lebih stabil dibandingkan lahan terbuka.

Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan perlindungan bagi tanaman dari paparan panas berlebih, sementara panel surya tetap mampu menghasilkan energi listrik.

Penelitian tahap awal ini menjadi dasar bagi pengembangan riset selanjutnya. Para peneliti berharap konsep agrivoltaik dapat menjadi salah satu model inovasi pertanian berkelanjutan di masa depan.

“Kami berharap riset ini dapat memberi kontribusi bagi pengembangan teknologi pertanian dan energi di Indonesia,” tutup Kunaifi. (IR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *