Peristiwa

Hujan Deras, Sungai Petapahan Meluap Rendam Desa di Kuantan Singingi

18
×

Hujan Deras, Sungai Petapahan Meluap Rendam Desa di Kuantan Singingi

Sebarkan artikel ini
Teks foto: Kondisi air meluap di pemukiman warga di Desa Petapahan, Kecamatan Gunung Toar, Kuansing, Kamis (8/1/2026). Ir/Harianupdate

HarianUpdate.com | Kuansing – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Kuantan Singingi menyebabkan Sungai Petapahan meluap dan menggenangi permukiman warga di Desa Petapahan, Kecamatan Gunung Toar, Kamis (8/1/2026). Peristiwa tersebut mengakibatkan aktivitas masyarakat setempat terganggu secara signifikan.

Pantauan di lapangan menunjukkan, air sungai yang meluap merendam sejumlah titik di desa dengan ketinggian genangan mencapai lutut orang dewasa. Luapan air tidak hanya memasuki kawasan permukiman, tetapi juga menggenangi lahan pertanian warga yang berada di sekitar bantaran sungai.

Sejumlah warga mengungkapkan bahwa kondisi banjir seperti ini bukan kali pertama terjadi. Mereka menyebut luapan Sungai Petapahan merupakan kejadian yang hampir rutin dialami setiap tahun, terutama saat curah hujan meningkat dalam waktu lama.

“Kalau hujan deras berhari-hari, air sungai biasanya naik dan masuk ke rumah-rumah warga,” ungkap salah seorang warga setempat.

Hingga Kamis sore, ketinggian air belum menunjukkan tanda-tanda surut, sehingga warga masih waspada terhadap kemungkinan bertambahnya genangan. Beberapa aktivitas harian, termasuk mobilitas warga dan kegiatan ekonomi, terpaksa dibatasi akibat kondisi tersebut.

Sementara itu, informasi resmi terkait penanganan banjir belum diperoleh. Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuantan Singingi masih belum mendapatkan keterangan terkait langkah penanganan maupun status kebencanaan di wilayah terdampak.

Warga berharap adanya perhatian dan penanganan lebih lanjut dari pihak terkait, mengingat banjir yang berulang dinilai terus berdampak pada kehidupan dan mata pencaharian masyarakat setempat. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *