Nasional

Ramadan dan Ekoteologi, Kakanwil Kemenag Riau Ajak Umat Jaga Lingkungan

6
×

Ramadan dan Ekoteologi, Kakanwil Kemenag Riau Ajak Umat Jaga Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Ramadan dan Ekoteologi, Kakanwil Kemenag Riau Ajak Umat Jaga Lingkungan
Teks foto: Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau, Muliardi. (ED/HUC)

HarianUpdate.com | Pekanbaru – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Riau, Muliardi, menegaskan bahwa bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai sarana pembinaan spiritual untuk memperkuat kesadaran manusia sebagai penjaga bumi.

Pesan tersebut dikatakan saat menyampaikan tausiyah Ramadan di Masjid Raya An Nur, Kota Pekanbaru. Dalam ceramah bertema “Ekoteologi Ramadan: Iman yang Menjaga Lingkungan dan Sosial”, ia mengajak umat Islam menjadikan puasa sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan alam.

Menurutnya, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah fil ardhi, yaitu pemimpin di bumi yang mendapat amanah dari Allah SWT untuk menjaga keseimbangan alam semesta.

“Ramadan bukan hanya melatih kita menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mendidik kita agar memiliki kesadaran sebagai khalifah di bumi yang bertugas merawat dan melestarikan lingkungan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa nilai-nilai ibadah puasa semestinya tercermin dalam perilaku sehari-hari yang membawa manfaat bagi diri sendiri, masyarakat, serta lingkungan sekitar.

“Kita harus mampu menghadirkan kemaslahatan bagi diri dan lingkungan. Jangan sampai manusia justru merusak bumi yang telah Allah ciptakan dengan begitu sempurna,” katanya.

Muliardi menjelaskan bahwa pesan menjaga alam sejalan dengan ajaran Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-A’raf ayat 56 yang mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa ibadah puasa juga mengajarkan gaya hidup sederhana. Pengendalian diri selama Ramadan, kata dia, dapat diwujudkan dengan mengurangi konsumsi berlebihan, menghindari pemborosan makanan saat sahur maupun berbuka, serta menggunakan air dan energi secara bijak.

“Ketika kita menekan perilaku boros dan lebih bijak menggunakan sumber daya, sejatinya kita sedang mempraktikkan nilai puasa dalam bentuk kepedulian terhadap lingkungan,” jelasnya.

Ia juga menyinggung sejumlah bencana alam yang terjadi belakangan ini sebagai pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam. Aktivitas seperti penebangan liar, membuang sampah sembarangan, hingga pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekosistem dinilai menjadi salah satu penyebab munculnya bencana seperti banjir dan longsor.

Karena itu, ia mengajak masyarakat memanfaatkan Ramadan sebagai momentum untuk memulai kebiasaan baik yang berdampak bagi lingkungan.

“Puasa mengajarkan kita menahan diri dari perbuatan yang merugikan, termasuk merusak alam. Mari mulai dari hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik, dan menanam pohon demi menjaga keseimbangan alam,” ujarnya.

Melalui tausiyah tersebut, Muliardi berharap nilai-nilai Ramadan tidak berhenti pada ritual ibadah semata, tetapi juga tercermin dalam kepedulian sosial dan tanggung jawab ekologis sebagai wujud nyata keimanan. (ED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *