HarianUpdate.com | Peanbaru – Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai muncul di sejumlah wilayah di Riau pada awal tahun 2026. Data yang dihimpun pemerintah daerah menunjukkan kebakaran telah terjadi di berbagai kabupaten dan kota dengan total luasan mencapai lebih dari seribu hektare.
Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran Riau, hingga saat ini terdapat 11 daerah yang terdampak karhutla dengan total luas terbakar mencapai 1.041,74 hektare.
Kepala bidang kedaruratan BPBD Damkar Riau, Jim Gafur, menyebutkan wilayah yang telah terpantau mengalami kebakaran meliputi Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Kepulauan Meranti, Kabupaten Siak, Kabupaten Kampar, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Indragiri Hulu, Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, Kabupaten Rokan Hilir, serta dua wilayah perkotaan yakni Dumai dan Pekanbaru.
“Hingga saat ini sudah 11 daerah di Riau yang ditemukan terjadi karhutla. Total luasan yang tercatat mencapai 1.041,74 hektare,” ujarnya kepada Harianupdate.com, Sabtu (21/2/2026).
Ia merinci, wilayah dengan luasan kebakaran terbesar berada di Pelalawan mencapai 612,30 hektare. Disusul Bengkalis 201,01 hektare, Indragiri Hilir 64,70 hektare, Siak 63,53 hektare, Dumai 30,52 hektare, Kampar 29,50 hektare, Pekanbaru 14,08 hektare, Kepulauan Meranti 13,40 hektare, Rokan Hilir 10 hektare, Kuantan Singingi 1,50 hektare serta Indragiri Hulu 1,20 hektare.
Selain luasan lahan terbakar, BPBD juga memantau kemunculan titik panas di berbagai lokasi. Dari hasil pemantauan satelit, tercatat sebanyak 1.849 hotspot atau titik panas dan 128 titik api yang teridentifikasi di wilayah tersebut.
“Dari rincian luasan tersebut juga ditemukan ribuan hotspot dengan lebih dari seratus titik api,” ujarnya.
Meski demikian, ia memastikan sebagian besar kebakaran yang sempat terjadi di daerah-daerah tersebut telah berhasil dikendalikan oleh tim gabungan di lapangan. Kondisi cuaca beberapa hari terakhir yang disertai hujan juga membantu proses pemadaman.
“Laporan dari daerah menyebutkan kebakaran yang terjadi sudah dapat ditangani. Beberapa hari terakhir hujan turun cukup merata di wilayah Riau,” ujarnya.
Dalam penanganan karhutla, berbagai unsur terlibat mulai dari BPBD kabupaten/kota, TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat peduli api hingga perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah rawan kebakaran.
Pemerintah Provinsi Riau sendiri telah menetapkan status siaga darurat karhutla. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi serta mempercepat penanganan jika kebakaran kembali muncul di sejumlah daerah.
“Dengan status siaga darurat yang sudah ditetapkan, diharapkan penanganan karhutla di Riau bisa lebih maksimal,” pungkasnya. (IR)











