HarianUpdate.com | Sleman – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-53 PDI Perjuangan di Kabupaten Sleman tidak sekadar menjadi ajang seremonial partai. Kegiatan yang digelar Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Sleman pada Minggu (18/1/2026) pagi justru dikemas sebagai ruang pertemuan antara politik dan aksi kemanusiaan.
Sejak pukul 07.00 WIB, Lapangan Pemda Sleman dipenuhi sekitar 2.000 kader, simpatisan, serta masyarakat umum yang mengikuti Senam Sicita dan kegiatan donor darah. Suasana semarak bercampur hangat, menandai cara partai berlambang banteng itu merayakan hari lahirnya dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kebutuhan rakyat.
Wakil Bupati Sleman Danang Mahesa tampak hadir dan membaur bersama peserta. Sebagai kader PDI Perjuangan, ia menilai peringatan kali ini menjadi penegasan bahwa kerja politik harus beririsan langsung dengan kepentingan sosial masyarakat.
“Ulang tahun partai tidak cukup dirayakan dengan seremoni. Yang terpenting adalah bagaimana kami hadir memberi manfaat nyata. Senam dan donor darah ini bentuk sederhana, tetapi menyentuh kebutuhan banyak orang,” kata Danang di sela kegiatan.
Menurutnya, PDI Perjuangan sejak awal berdiri dibangun di atas nilai gotong royong. Tradisi tersebut, lanjut Danang, harus terus diterjemahkan dalam program yang inklusif, bukan hanya untuk kader, tetapi juga bagi masyarakat luas tanpa memandang latar belakang.
Perayaan tahun ini mengusung tema “Disanalah Aku Berdiri Selama-lamanya” dengan semboyan “Satyam Eva Jayate”. Tema itu dimaknai sebagai sikap ideologis untuk tetap berpihak pada kebenaran dan keadilan sosial di tengah dinamika politik nasional.
Senam Sicita dipilih sebagai simbol kedisiplinan kolektif, sementara donor darah menjadi representasi solidaritas lintas batas. Panitia membuka layanan donor bagi siapa pun yang memenuhi syarat kesehatan dengan menggandeng tenaga medis profesional.
Ketua panitia kegiatan menyebut, keterlibatan ribuan peserta menunjukkan bahwa politik tidak harus berjarak dengan ruang publik. Lapangan Pemda Sleman dipilih sebagai simbol keterbukaan, tempat di mana partai dan rakyat berdiri sejajar.
“Partai harus hadir di tengah kehidupan sehari-hari warga. Bukan hanya bicara kekuasaan, tetapi juga memeluk persoalan nyata seperti kesehatan dan kemanusiaan,” ujarnya.
Seluruh struktur DPC, sayap partai, hingga relawan tampak terlibat aktif. Tidak ada sekat protokoler yang kaku. Warga datang bukan sebagai penonton, melainkan bagian dari gerak bersama.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, PDI Perjuangan Sleman ingin meneguhkan kembali jati dirinya sebagai partai rakyat. Politik, bagi mereka, bukan semata urusan elektoral, melainkan jalan panjang merawat martabat manusia.
Dengan semangat Satyam Eva Jayate, DPC PDI Perjuangan Sleman menegaskan komitmen untuk terus berdiri bersama rakyat, menjaga nilai gotong royong, serta menghadirkan wajah politik yang lebih membumi dan bermakna bagi kehidupan sehari-hari. ***











