HarianUpdate.com | Bandung – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa Balai Latihan Kerja (BLK) kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat pelatihan kerja semata, melainkan dikembangkan menjadi pusat pengembangan talenta, inkubator bisnis dan klinik produktivitas guna menjawab kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Transformasi tersebut menjadi bagian dari langkah strategis Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dalam mengoptimalkan peran BLK sebagai pusat pelatihan vokasi yang adaptif, inklusif dan relevan dengan kebutuhan industri, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“BLK tidak hanya sekadar menjadi tempat pelatihan, tetapi juga dikembangkan sebagai Talent and Innovation Hub, klinik produktivitas, serta inkubator bisnis. Fokus Kemnaker adalah memastikan lulusan BLK dapat langsung terserap di dunia kerja atau mampu merintis usaha secara mandiri,” ujar Yassierli.
Pernyataan tersebut disampaikan Menaker saat memberikan arahan terkait kebijakan ketenagakerjaan tahun 2026 di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung, Jawa Barat, Jumat (8/5/2026).
Dalam arahannya, Yassierli memaparkan strategi ketenagakerjaan Indonesia periode 2025–2029 yang menitikberatkan pada penguatan hubungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri atau link and match.
Selain itu, Kemnaker juga fokus pada optimalisasi BLK, perlindungan pekerja informal, penyediaan pekerjaan layak dan inklusif, serta penguatan regulasi ketenagakerjaan termasuk sektor platform digital dan keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Menurutnya, penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam menghadapi dinamika pasar kerja yang terus berubah akibat perkembangan teknologi dan transformasi industri.
Untuk mendukung percepatan transformasi tersebut, pengelolaan BLK kini diarahkan menggunakan pendekatan user journey approach atau alur pencari kerja.
Pendekatan tersebut dilakukan agar layanan BLK lebih tepat sasaran mulai dari proses pendaftaran, pelatihan hingga penempatan kerja.
“Kemnaker mendesain ulang alur layanan BLK agar lebih berfokus pada kebutuhan pencari kerja. Pelatihan tidak lagi hanya berorientasi pada materi di kelas, tetapi juga mengedepankan metode Project-Based Learning (PBL) dan program magang langsung di industri,” jelasnya.
Ia menambahkan, metode pembelajaran berbasis proyek dan praktik langsung di dunia industri dinilai lebih efektif dalam meningkatkan kompetensi tenaga kerja agar siap menghadapi kebutuhan pasar kerja modern.
Selain itu, BLK juga akan memperkuat kolaborasi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), perguruan tinggi serta komunitas sebagai bagian dari penguatan ekosistem pelatihan vokasi nasional.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan sinergi yang lebih kuat dalam pengembangan kompetensi tenaga kerja Indonesia.
Dalam pengelolaannya, BLK juga akan memanfaatkan sistem berbasis teknologi informasi dan data untuk memetakan kebutuhan pasar kerja secara lebih akurat.
Langkah tersebut dilakukan guna memastikan pelatihan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan industri sekaligus mempermudah evaluasi terhadap dampak program pelatihan yang dijalankan.
“Dengan data yang lebih presisi, pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja sehingga hasilnya lebih efektif dan tepat sasaran,” katanya.
Selain penguatan layanan dan kolaborasi, Yassierli juga menekankan pentingnya peran kehumasan dalam memperluas akses informasi kepada masyarakat terkait layanan dan manfaat program BLK.
Menurutnya, komunikasi publik yang aktif dan terbuka sangat diperlukan agar masyarakat semakin memahami peluang pengembangan kompetensi yang tersedia melalui BLK.
“Dengan sinergi data, kolaborasi yang kuat dan pendekatan humas yang proaktif, kami yakin BLK akan menjadi motor penggerak SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045,” tegas Yassierli.
Transformasi BLK tersebut diharapkan mampu melahirkan tenaga kerja yang kompeten, produktif dan mampu bersaing di era industri modern, sekaligus mendukung percepatan pembangunan ekonomi nasional. ***











