Daerah

SF Hariyanto Tegaskan Pemulihan Tesso Nilo Harus Terukur dan Minim Dampak Sosial

54
×

SF Hariyanto Tegaskan Pemulihan Tesso Nilo Harus Terukur dan Minim Dampak Sosial

Sebarkan artikel ini
Teks foto: Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto, memaparkan perkembangan program pemulihan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Desa Segati, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Selasa (3/3/2026). RB/HUC

HarianUpdate.com | Pekanbaru – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyampaikan bahwa percepatan pemulihan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) masih membutuhkan sekitar 9.966 hektare lahan alternatif untuk mendukung proses relokasi masyarakat yang berada di dalam kawasan konservasi tersebut.

Hal itu disampaikannya saat memaparkan perkembangan program pemulihan TNTN di Desa Segati, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Selasa (3/3/2026).

SF Hariyanto menjelaskan, berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan Tim Percepatan Pemulihan Taman Nasional Tesso Nilo (TP2TNTN), terdapat sekitar 10.600 hektare lahan di kawasan TNTN yang saat ini dikuasai oleh 3.916 kepala keluarga (KK).

“Dari hasil pendataan, hingga saat ini proses relokasi telah mencapai 633 hektare dengan 227 kepala keluarga yang telah dipindahkan ke lokasi yang disiapkan,” ujar SF Hariyanto.

Menurutnya, kebutuhan lahan alternatif yang tersisa mencapai 9.966 hektare dan telah dipetakan sebagai bagian dari upaya penyelesaian persoalan penguasaan lahan di kawasan konservasi tersebut.

“Masih tersisa kebutuhan 9.966 hektare lahan alternatif yang telah dipetakan. Tindak lanjutnya membutuhkan keputusan di tingkat nasional, dan pihak daerah siap mengawal implementasinya,” katanya.

Sebagai Ketua TP2TNTN, SF Hariyanto menegaskan bahwa proses pemulihan kawasan dilakukan secara bertahap dengan mengedepankan kepastian hukum, prinsip kehati-hatian, serta menjaga stabilitas sosial masyarakat yang terdampak.

Ia menilai penyelesaian persoalan di kawasan konservasi tidak dapat dilakukan hanya melalui pendekatan penertiban, tetapi juga harus memperhatikan aspek sosial dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.

“Penyelesaian kawasan konservasi tidak boleh menimbulkan persoalan sosial baru. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya melalui pengamanan kawasan, tetapi juga penyediaan lahan alternatif yang memiliki kepastian hukum,” jelasnya.

Untuk mempercepat pemulihan TNTN, tim akan menjalankan tiga fokus utama secara paralel, yakni pengamanan dan penertiban kawasan, penyediaan lahan alternatif bagi masyarakat terdampak, serta pelaksanaan reforestasi berbasis zonasi yang didukung pengawasan berkelanjutan.

Pemerintah menargetkan program pemulihan TNTN berlangsung hingga tahun 2028 dengan sasaran pemulihan kawasan seluas sekitar 66.704 hektare. Langkah tersebut dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan konservasi agar dapat berjalan secara optimal.

SF Hariyanto menambahkan, keberhasilan program pemulihan membutuhkan dukungan kebijakan serta pembiayaan dari pemerintah pusat agar seluruh tahapan dapat terlaksana sesuai target yang telah ditetapkan.

“Pemulihan harus berjalan secara terukur dan terkendali. Tujuan kami adalah Tesso Nilo kembali menjadi kawasan konservasi yang utuh, lestari, dan berfungsi optimal,” tegasnya. (RB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *