Nasional

Di Tengah Pemulihan Bencana, Warga Aceh Jalani Ramadhan di Pengungsian

9
×

Di Tengah Pemulihan Bencana, Warga Aceh Jalani Ramadhan di Pengungsian

Sebarkan artikel ini
Di Tengah Pemulihan Bencana, Warga Aceh dan Sumut Jalani Ramadhan di Pengungsian
Teks foto: Relawan dari NU Care-LAZISNU Jawa Timur menyiapkan makanan di dapur umum bagi penyintas banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. (AB/HUC)

HarianUpdate.com | Aceh – Bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah dijalani dengan suasana yang berbeda oleh para korban bencana di wilayah utara Pulau Sumatera. Di tengah proses pemulihan pascabanjir bandang, solidaritas antardaerah dan semangat gotong royong menjadi kekuatan bagi para penyintas untuk tetap menjalankan ibadah puasa meski tinggal di pengungsian.

Di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, para korban banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 masih bertahan di sejumlah titik pengungsian. Untuk membantu kebutuhan pangan warga selama Ramadhan, NU Care-LAZISNU Jawa Timur mendirikan empat dapur umum.

Dapur umum tersebut tersebar di Desa Kota Lintang Bawah, Desa Banai, Desa Menanggini, serta satu titik tambahan di wilayah Aceh Timur.

“Kami hadir untuk memastikan kebutuhan makanan warga tetap terpenuhi selama masa pemulihan pascabencana,” tegas Ahmad Syaiful melalui pesan singkat kepada Harianupdate.com, Senin (23/2/2026).

Ia menjelaskan, pada tahap awal pihaknya telah menyalurkan berbagai kebutuhan pokok seperti beras, mi instan, minyak goreng, serta bumbu dapur. Bantuan tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan warga selama beberapa hari ke depan.

Selain bahan pangan, relawan juga membawa berbagai perlengkapan dapur, mulai dari kompor dua tungku hingga penanak nasi agar operasional dapur umum berjalan maksimal.

Bahkan menjelang Hari Raya Idul Fitri, tim relawan juga menyiapkan bantuan pakaian layak pakai untuk dibagikan kepada warga terdampak.

Kondisi serupa juga terlihat di Kabupaten Tapanuli Selatan. Sejak dini hari, aktivitas dapur umum sudah dimulai untuk menyiapkan makanan sahur bagi ratusan warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian.

Di Desa Batu Hula, para relawan mulai memasak sejak pukul 03.00 WIB. Makanan sahur disiapkan bagi sekitar 220 kepala keluarga yang tersebar di berbagai lokasi pengungsian, mulai dari tenda darurat hingga bangunan milik warga.

Menu yang disediakan memang sederhana, berupa nasi hangat, mi instan, serta air minum. Namun bagi warga terdampak banjir dari Desa Huta Godang dan Garoga, bantuan tersebut sangat berarti.

“Untuk sementara kami siapkan makanan seadanya dulu, seperti nasi dan mi instan agar warga tetap bisa sahur,” ujar relawan dapur umum, Resdi Nasution.

Meski dapur umum masih beroperasi, perlahan kondisi di pengungsian mulai membaik. Sebagian warga kini sudah memiliki peralatan memasak sendiri sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada dapur umum.

Namun demikian, dapur umum tetap menjadi penopang penting bagi warga yang belum memiliki fasilitas memasak.

Bagi para penyintas, Ramadhan tahun ini menjadi ujian ketabahan. Di balik aktivitas sederhana di dapur umum dan doa yang dipanjatkan dari tenda pengungsian, tersimpan harapan agar masa sulit segera berlalu dan mereka dapat kembali ke rumah masing-masing. (AB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *