Daerah

Bayar Pajak Listrik, Warga Bandarsyah Keluhkan PJU Tak Kunjung Berfungsi Normal

×

Bayar Pajak Listrik, Warga Bandarsyah Keluhkan PJU Tak Kunjung Berfungsi Normal

Sebarkan artikel ini
Teks foto: Ilustrasi kondisi minim penerangan jalan yang rawan kecelakaan akibat kelompok anjing liar. (SY/HUC)

HarianUpdate.com | Natuna – Sejumlah lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) yang terpasang pada tiang listrik Jaringan Tegangan Menengah (JTM) atau Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) di ruas Jalan H. Adam Malik, Padang Tulung, Bandarsyah, Kabupaten Natuna, dikeluhkan warga karena kerap tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Warga menyebut, dalam satu bulan sejumlah unit PJU di kawasan tersebut hanya menyala satu atau dua hari. Setelah itu, lampu kembali padam dan sebagian di antaranya disebut tidak menyala selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Kondisi tersebut dinilai mengurangi fungsi penerangan jalan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas dan berkendara pada malam hari.

Warga berharap unit PJU yang mengalami kerusakan berulang dan tidak lagi efektif diperbaiki dapat segera diganti dengan unit baru, sehingga persoalan lampu padam tidak terus berulang.

Penerangan jalan umum bukan hanya berkaitan dengan estetika kawasan perkotaan, tetapi juga memiliki fungsi dalam membantu memberikan penerangan bagi pengguna jalan pada malam hari.

Terlebih, warga menilai kondisi jalan yang minim penerangan dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah keberadaan anjing liar yang kerap berkeliaran di sejumlah ruas jalan dan berpotensi membahayakan pengendara, khususnya sepeda motor.

Keluhan tersebut disampaikan Yanto, warga Bandarsyah. Ia mengaku kecewa karena lampu penerangan di kawasan tempat tinggalnya sering tidak berfungsi.

“Bukan hanya soal gelap. Saya juga beberapa kali hampir menabrak anjing liar yang bermain di jalan raya. Kalau kondisi jalan gelap, tentu pengendara harus lebih waspada,” ujar Yanto kepada media ini.

Menurutnya, minimnya penerangan juga membuat warga merasa kurang nyaman ketika melihat sejumlah kendaraan berhenti di bahu jalan pada malam hingga dini hari.

“Kalau malam hari, kami harus lebih berhati-hati. Apalagi kalau ada kendaraan yang berhenti di pinggir jalan pada dini hari. Kondisi yang gelap membuat warga merasa kurang nyaman,” katanya.

Yanto mengaku telah berupaya mencari jalur pengaduan terkait lampu PJU yang mati. Ia menyebut pernah berkoordinasi dengan pegawai Dinas Perhubungan yang diketahuinya menangani sejumlah urusan terkait rambu, marka dan penerangan jalan.

Namun, menurut Yanto, ia mendapat penjelasan bahwa penanganan perbaikan lampu jalan dan rambu melibatkan pihak ketiga.

“Saya sudah berusaha mencari akses untuk mengadukan masalah ini. Saya juga pernah berkoordinasi dengan pegawai dinas terkait, tetapi saya mendapat informasi bahwa perbaikan lampu jalan dan rambu ditangani pihak ketiga,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memperjelas mekanisme pengaduan serta memastikan adanya tindak lanjut terhadap lampu PJU yang mengalami kerusakan.

“Daerah sekecil ini pun masyarakat kesulitan mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya dari pemerintah. Saya sudah berusaha mencari akses untuk mengadukan masalah ini, tetapi sampai sekarang belum ada solusi,” kata Yanto.

Selain persoalan teknis, warga juga mempertanyakan efektivitas pelayanan PJU mengingat masyarakat sebagai pelanggan listrik turut membayar pungutan yang berkaitan dengan penerangan jalan melalui tagihan listrik.

Dalam sistem perpajakan daerah, pungutan atas tenaga listrik kini dikenal sebagai Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) atas Tenaga Listrik. Warga berharap penerimaan daerah tersebut turut mendukung penyediaan dan pelayanan fasilitas publik, termasuk penerangan jalan umum.

Namun, persoalan kewenangan, pengelolaan, serta penggunaan penerimaan tersebut perlu dijelaskan secara resmi oleh pemerintah daerah agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai mekanisme penyediaan dan pemeliharaan PJU.

Keluhan serupa, menurut warga, juga terdapat di sejumlah ruas jalan lain di wilayah Natuna yang memiliki unit PJU tetapi tidak berfungsi secara optimal.

Warga berharap pemerintah daerah dan instansi teknis segera melakukan pendataan terhadap PJU yang mengalami kerusakan, memperbaiki unit yang masih dapat ditangani, serta mengganti unit yang sudah tidak layak apabila memang diperlukan.

Hingga berita ini diterbitkan, media ini belum memperoleh keterangan resmi dari pemerintah daerah maupun instansi teknis terkait mengenai jumlah PJU yang mengalami kerusakan, penyebab gangguan, mekanisme pemeliharaan, serta tindak lanjut atas keluhan warga tersebut. (SY)

Penulis: Sardiyanto Editor: Bobi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *