Pendidikan

Peristiwa di SDN 4 Simeulue Timur Berakhir Damai, Sekolah Minta Publik Tak Berspekulasi

105
×

Peristiwa di SDN 4 Simeulue Timur Berakhir Damai, Sekolah Minta Publik Tak Berspekulasi

Sebarkan artikel ini
Teks foto: Tampak depan SD Negeri 4 Simeulue Timur. (HD/HUC)

HarianUpdate.com | Simeulue – Beredarnya video yang memperlihatkan dugaan perkelahian antarsiswa di SD Negeri 4 Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, Aceh, menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial. Menanggapi hal tersebut, pihak sekolah memberikan klarifikasi mengenai kronologi kejadian sekaligus memastikan persoalan telah diselesaikan secara kekeluargaan.

Salah seorang guru SDN 4 Simeulue Timur menjelaskan, peristiwa itu terjadi pada Jumat (17/7/2026) sekitar pukul 09.00 WIB, saat kegiatan belajar mengajar tidak berlangsung seperti biasa.

Menurutnya, pada saat itu sekolah sedang melaksanakan program Jumat Berkah dan kegiatan pelatihan ketangkasan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran yang melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Simeulue.

“Kejadian tersebut terjadi pada hari Jumat, 17 Juli 2026 sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu seluruh dewan guru sedang mempersiapkan sarana pelaksanaan kegiatan Jumat Berkah dan pelatihan ketangkasan siswa yang dihadiri BPBD,” ujar salah seorang guru saat ditemui wartawan, Selasa (21/7/2026).

Pihak sekolah menegaskan bahwa peristiwa yang terjadi bukan merupakan aksi pengeroyokan maupun perundungan (bullying), melainkan kesalahpahaman yang terjadi antarsiswa.

Setelah mengetahui kejadian tersebut, pihak sekolah mengaku langsung berupaya menghubungi orang tua masing-masing siswa. Namun, komunikasi pada hari itu belum dapat dilakukan sehingga sekolah mengambil langkah awal dengan memediasi para siswa yang terlibat.

“Peristiwa ini bukanlah pengeroyokan atau bullying, melainkan kesalahpahaman antara siswa,” ungkap pihak sekolah.

Sekolah menjelaskan, proses penyelesaian kemudian dilanjutkan pada Senin (20/7/2026) dengan menghadirkan orang tua kedua belah pihak.

Dalam pertemuan tersebut, seluruh pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara damai dan kekeluargaan.

“Pada hari kejadian pihak sekolah telah melaksanakan mediasi. Kemudian pada hari Senin kemarin kedua belah pihak menyatakan bersedia berdamai dan menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan,” jelas pihak sekolah.

Selain itu, pihak sekolah mengungkapkan bahwa perwakilan Dinas Pendidikan serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga telah datang ke sekolah untuk melakukan pendampingan dan melihat langsung penanganan kasus tersebut.

Sekolah berharap persoalan tersebut tidak berkembang menjadi polemik yang lebih luas, mengingat kedua keluarga telah mencapai kesepakatan damai.

Pihak sekolah juga berkomitmen meningkatkan pengawasan terhadap peserta didik agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kami akan meningkatkan pengawasan kepada para siswa dan mengimbau seluruh pihak agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan video yang beredar di media sosial. Lihatlah persoalan ini secara utuh demi kepentingan terbaik bagi anak-anak,” ujar pihak sekolah.

Pada kesempatan yang sama, salah seorang orang tua siswa yang hadir di sekolah meminta masyarakat untuk menghormati hasil perdamaian yang telah dicapai kedua keluarga.

Ia berharap publik tidak lagi memberikan komentar negatif maupun hujatan terhadap anak-anak yang terlibat karena dikhawatirkan dapat berdampak pada kondisi psikologis mereka.

“Kami sudah berdamai. Jadi kami selaku orang tua berharap kepada masyarakat dan saudara-saudara kami agar tidak lagi menghujat anak-anak kami, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Tolong mengerti perasaan kami,” harap salah seorang wali murid.

Pihak sekolah berharap seluruh pihak dapat menghormati proses penyelesaian yang telah ditempuh dan bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, kondusif, serta mendukung tumbuh kembang peserta didik. (HD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *