Peristiwa

Pekerja Sawit di Siak Nyaris Diserang Harimau Sumatera, BBKSDA Riau Tingkatkan Mitigasi

18
×

Pekerja Sawit di Siak Nyaris Diserang Harimau Sumatera, BBKSDA Riau Tingkatkan Mitigasi

Sebarkan artikel ini
Teks foto: Petugas BBKSDA Riau melakukan pemantauan dan mitigasi di lokasi kemunculan Harimau Sumatera di Desa Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak. (RK/HUC)

HarianUpdate.com | Siak – Seorang pekerja kebun kelapa sawit di Desa Mengkapan, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau, nyaris menjadi korban serangan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) saat mengangkut hasil panen menggunakan sepeda motor.

Peristiwa yang terjadi pada 14 Juli 2026 itu langsung mendapat perhatian Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, yang segera menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan pemantauan serta langkah-langkah mitigasi guna mencegah terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, mengatakan pihaknya menerima laporan dugaan interaksi negatif antara Harimau Sumatera dengan seorang warga di kawasan tersebut.

“Kami menerima laporan dugaan interaksi negatif antara Harimau Sumatera dengan seorang warga yang terjadi pada 14 Juli 2026,” ujar Supartono, Selasa (21/7/2026).

Menurutnya, tim BBKSDA Riau langsung diterjunkan ke lapangan untuk melakukan pengecekan lokasi sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pihak terkait guna memastikan kronologi kejadian.

Berdasarkan keterangan saksi, korban bernama Agus merupakan pekerja di kebun kelapa sawit milik Ahmad Rokani. Saat itu sekitar pukul 10.00 WIB, Agus tengah mengangkut hasil panen menggunakan sepeda motor dan melintasi areal kebun.

Sesampainya di lokasi kejadian, seekor Harimau Sumatera tiba-tiba melompat ke bagian belakang sepeda motor yang dikendarainya dan mencakar keranjang berisi hasil panen.

“Kaget melihat harimau berada di belakang motornya, korban kemudian memacu kendaraannya dan berhasil menyelamatkan diri sehingga terhindar dari serangan lanjutan,” kata Supartono.

Selain kejadian tersebut, BBKSDA Riau juga memperoleh informasi mengenai kemunculan Harimau Sumatera lainnya di lokasi yang sama.

Supartono menjelaskan, pada 18 Juli 2026 sekitar pukul 12.00 WIB, dua warga bernama Amir dan Dodi kembali melihat seekor Harimau Sumatera di sekitar Kilometer 4 Desa Mengkapan.

“Saksi mengungkapkan harimau tersebut melompat dari parit di seberang jalur pipa menuju badan jalan. Namun, saat berpapasan dengan kendaraan yang dikendarai Amir, harimau itu kembali masuk ke arah parit dan tidak melanjutkan penyeberangan,” jelasnya.

Ia menambahkan, berdasarkan keterangan saksi, satwa dilindungi tersebut tidak menunjukkan perilaku agresif terhadap kendaraan maupun pengendaranya.

Meski demikian, hasil pengecekan yang dilakukan petugas di lokasi belum menemukan jejak ataupun tanda-tanda keberadaan Harimau Sumatera.

“Tim BBKSDA Riau sudah melakukan pengecekan di lokasi, tetapi tidak menemukan jejak maupun tanda-tanda keberadaan Harimau Sumatera,” ungkap Supartono.

Sementara itu, berdasarkan keterangan warga setempat, salah satunya Gianto, kemunculan Harimau Sumatera di kawasan Desa Mengkapan bukanlah kejadian baru. Warga mengaku beberapa kali melihat satwa tersebut melintas di sekitar lokasi, namun hingga kini belum pernah terjadi serangan terhadap masyarakat.

Menyikapi laporan tersebut, BBKSDA Riau akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pemerintah desa, perusahaan, dan pihak terkait untuk meningkatkan pemantauan serta melaksanakan langkah-langkah mitigasi konflik satwa liar guna menjaga keselamatan masyarakat sekaligus melindungi keberadaan Harimau Sumatera yang berstatus satwa dilindungi.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau mengaktifkan patroli siskamling, terutama pada malam hari, serta segera melaporkan kepada petugas BBKSDA Riau atau aparat setempat apabila mengetahui keberadaan Harimau Sumatera maupun satwa liar lainnya di sekitar permukiman atau kawasan aktivitas warga.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada, menghindari aktivitas seorang diri di kawasan yang diduga menjadi lintasan satwa liar, terutama pada sore hingga malam hari,” pesan Supartono.

BBKSDA Riau juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan tindakan yang dapat memicu konflik dengan satwa liar, mengingat Harimau Sumatera merupakan satwa yang dilindungi dan populasinya di alam terus mengalami tekanan akibat penyusutan habitat dan aktivitas manusia. (RK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *