HarianUpdate.com | Pekanbaru – Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau terus diperkuat Tim Satgas Udara Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tidak hanya dilakukan saat puncak musim kemarau pada Agustus, tetapi telah berjalan sejak Februari 2026.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah penyemaian awan menggunakan garam jenis NaCl. Teknologi tersebut digunakan sebagai upaya preventif untuk memicu pembentukan hujan, membasahi lahan gambut, serta menjaga ketersediaan air di wilayah yang rawan Karhutla.
Kepala Dinas Operasi Lanud Roesmin Nurjadin, Kolonel Pnb Andri Setyawan, mengatakan pelaksanaan OMC sejak awal tahun merupakan bagian dari strategi pencegahan sebelum risiko Karhutla meningkat.
“OMC ini kita lakukan tidak hanya di frame waktu sekarang Agustus di mana puncaknya. Tapi kita sudah melaksanakan OMC bahkan sejak Februari, di awal itu kita lakukan sebagai bentuk pencegahan,” kata Andri saat diwawancarai di Pekanbaru, Jumat (28/8/2026).
Menurut Andri, penyemaian awan dilakukan dengan tujuan memicu terbentuknya hujan di wilayah sasaran sehingga lahan gambut tetap memiliki kelembapan dan cadangan air dapat tersedia di sejumlah lokasi rawan.
“Kita trigger pembentukan awan hujannya dengan menaburkan garam. Tujuannya agar bisa semaksimal mungkin membasahi lahan-lahan gambut,” ujarnya.
Hujan yang dihasilkan dari proses modifikasi cuaca diharapkan dapat mengisi embung-embung yang telah disiapkan di kawasan rawan Karhutla. Ketersediaan sumber air tersebut penting untuk mendukung operasi pasukan darat ketika melakukan penyiraman maupun pemadaman api.
“Harapan kita sumber air dari turunnya hujan bisa mengisi embung-embung yang sudah kita siapkan di lahan-lahan rawan. Sehingga apabila terjadi kebakaran, pasukan darat mempunyai sumber air untuk penyiraman dan pemadaman,” jelasnya.
Hingga menjelang akhir Agustus 2026, Satgas Udara mencatat ratusan sortie penerbangan dalam pelaksanaan OMC. Total garam NaCl yang telah ditaburkan disebut mencapai hampir 160 ton.
Operasi tersebut menggunakan pesawat jenis Cassa dengan kapasitas angkut sekitar satu ton garam dalam setiap penerbangan.
Khusus selama Agustus, saat risiko Karhutla meningkat, Satgas Udara telah melaksanakan sekitar 36 sorti dengan total sekitar 36 ton garam yang ditaburkan ke wilayah sasaran.
“Di bulan ini saja, di mana kita terjadi puncaknya El Nino, kita sudah menerbangkan hampir 36 sorti atau 36 ton garam,” ungkap Andri.
Menurutnya, dampak operasi modifikasi cuaca mulai dirasakan dengan turunnya hujan di sejumlah kawasan rawan Karhutla, di antaranya Kabupaten Siak dan Pelalawan.
Turunnya hujan tersebut dinilai membantu proses penanganan Karhutla, baik dalam pemadaman oleh pasukan darat maupun dukungan terhadap operasi water bombing.
Selain membantu pemadaman, hujan juga diharapkan meningkatkan kembali ketersediaan air di lahan gambut sehingga risiko api meluas dapat ditekan.
Pelaksanaan OMC dilakukan berdasarkan pemantauan kondisi atmosfer dan keberadaan awan konvektif yang berpotensi berkembang menjadi awan hujan. Satgas Udara berkoordinasi dengan BMKG Riau untuk memperoleh informasi mengenai kondisi cuaca dan potensi awan yang dapat disemai.
“Kita berkoordinasi dengan BMKG yang selalu senantiasa 24 jam memantau kondisi cuaca di Provinsi Riau. Sehingga kita mendapatkan info di mana ada awan-awan konvektif berpotensi menjadi awan hujan, itu kita berangkatkan pesawat,” kata Andri.
Informasi cuaca tersebut diperbarui secara berkala, mulai dari analisis periode 10 harian hingga pemantauan kondisi atmosfer setiap tiga jam. Data tersebut menjadi salah satu dasar bagi Satgas Udara dalam menentukan waktu dan lokasi pelaksanaan penyemaian.
Evaluasi pelaksanaan OMC juga dilakukan secara berkala setiap 10 hari. Jika berdasarkan analisis BMKG masih terdapat potensi awan hujan yang cukup mendukung, operasi dapat dilanjutkan.
Sebaliknya, apabila kondisi atmosfer tidak menunjukkan potensi awan yang sesuai, penerbangan dapat dihentikan sementara untuk mengefisienkan penggunaan jam terbang pesawat maupun material garam.
Andri menyebut, efektivitas OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Penyemaian tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena harus memperhitungkan keberadaan awan, arah serta kecepatan angin, dan lokasi sasaran hujan.
“Penaburan garam tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Kita harus memperhitungkan arah dan kecepatan angin agar hujan yang diharapkan turun di lokasi sasaran dan tidak terbuang di wilayah perairan,” jelasnya.
Ia menambahkan, beberapa hari sebelumnya Satgas Udara juga melakukan penyemaian dengan sekitar empat ton garam yang kemudian diikuti hujan di sejumlah wilayah Siak dan Pelalawan.
Kondisi tersebut, kata Andri, membantu proses penanganan titik-titik api di wilayah yang mendapatkan hujan.
“Harapan kita darurat di Provinsi Riau ini benar-benar bisa kita kendalikan. Hujan kita harapkan bisa merata di seluruh Provinsi Riau, khususnya di lahan-lahan yang sangat rawan terjadinya Karhutla,” pungkasnya. (RB)











