HarianUpdate.com | Natuna – Kecamatan Bunguran Batubi Jaya bersiap mengajukan peningkatan status menjadi siaga darurat kepada Pemerintah Kabupaten Natuna menyusul meluasnya titik api kebakaran lahan gambut yang memicu kabut asap di wilayah tersebut.
Langkah tersebut disiapkan untuk mempercepat penanganan kebakaran sekaligus mengantisipasi dampaknya terhadap masyarakat, termasuk gangguan kesehatan, jarak pandang pengguna jalan, aktivitas nelayan dan potensi gangguan terhadap penerbangan.
Pasca pengendalian kebakaran lahan dalam tiga hari terakhir, pihak kecamatan bersama personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan masyarakat masih melakukan pemantauan terhadap sumber asap yang diduga berasal dari bara api yang tersisa di kawasan gambut.
Camat Bunguran Batubi Jaya, Mikrayatul Hayat, membenarkan rencana pengajuan status siaga tersebut saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (21/8/2026).
Selain mengusulkan peningkatan status, pihak kecamatan juga meminta BPBD Natuna menyiapkan tenda darurat di wilayah terdampak. Tenda tersebut nantinya difungsikan sebagai posko sementara sekaligus pusat koordinasi penanganan kebakaran di lapangan.
Menurut Mikrayatul, karakteristik lahan gambut menjadi salah satu kendala dalam penanganan kebakaran. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan sehingga proses pemadaman membutuhkan pemantauan dan penanganan berulang.
Kondisi tersebut membuat kepulan asap masih terlihat di sekitar permukiman warga. Keberadaan posko sementara dinilai penting untuk memudahkan mobilisasi personel, relawan, logistik, peralatan pemadaman serta bantuan bagi masyarakat terdampak.
Pihak kecamatan juga terus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun kebun, terutama dalam kondisi cuaca kering dan angin yang berpotensi mempercepat penyebaran api.
Staf Seksi Trantib Kecamatan Bunguran Batubi Jaya, Imam Nawawi, mengatakan keterbatasan sarana dan prasarana tidak menyurutkan upaya pemerintah kecamatan dalam melakukan penanganan serta sosialisasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat.
“Kami terus berupaya semaksimal mungkin dengan sarana yang ada. Sosialisasi peduli api juga terus dilakukan kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi lahan yang relatif kering ditambah intensitas angin berpotensi membuat titik api kembali meluas. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Kabut asap saat ini dilaporkan mulai menyelimuti sebagian wilayah Kecamatan Bunguran Batubi Jaya. Kecamatan tersebut memiliki luas sekitar 214,81 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sekitar 4.218 jiwa.
Mikrayatul mengatakan, selama hampir sepekan terakhir dirinya bersama jajaran kecamatan lebih banyak berada di lapangan untuk memantau penanganan kebakaran bersama personel BPBD.
“Penanganan karhutla ini juga merupakan bentuk pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, kami terus berada di lapangan untuk memantau kondisi dan membantu penanganan,” katanya.
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Natuna, Raja Darmika, membenarkan adanya permintaan dari Kecamatan Bunguran Batubi Jaya terkait penyiapan posko darurat.
Menurutnya, BPBD tidak hanya akan mengirimkan tenda, tetapi juga sejumlah peralatan pendukung untuk menunjang penanganan kebakaran di lapangan.
“Selain tenda darurat, kami juga menyiapkan peralatan pendukung seperti dua unit selang masing-masing sepanjang 60 meter, mesin pompa air portabel, serta velbed untuk tempat istirahat personel BPBD,” ujar Raja.
Ia menilai keberadaan sejumlah posko pendukung di Pulau Bunguran Besar perlu dipertimbangkan, terutama jika kondisi kemarau panjang terus berlangsung.
Beberapa lokasi yang dinilai strategis antara lain Desa Cemaga, Kecamatan Bunguran Selatan, untuk memantau wilayah rawan kebakaran dari Penarik hingga Selat Lampa. Selain itu, Kelarik di Kecamatan Bunguran Utara serta Desa Binjai di Kecamatan Bunguran Barat juga dinilai dapat menjadi titik pemantauan.
Menurut Raja, penanganan kebakaran di lapangan tidak hanya menghadapi persoalan keterbatasan sumber air. Tim juga perlu memastikan lokasi titik api yang terkadang sulit dideteksi, terutama ketika api membakar lapisan gambut di bawah permukaan.
Dalam beberapa hari terakhir, kabut asap tipis juga dilaporkan mulai terlihat di sejumlah wilayah Pulau Bunguran Besar dan beberapa kecamatan sekitar pada siang hingga malam hari.
Namun, terkait dugaan bahwa sebagian kabut asap tersebut berasal dari wilayah lain, BPBD masih perlu melakukan pemantauan dan verifikasi berdasarkan arah angin serta kondisi titik api.
“Kondisi ini perlu diantisipasi secara masif. Selain penanganan di lapangan, sosialisasi kepada berbagai lapisan masyarakat juga harus diperkuat, baik secara langsung maupun melalui media sosial,” katanya.
Raja menilai kondisi kemarau panjang perlu menjadi perhatian serius karena dapat meningkatkan risiko kebakaran. Di satu sisi, keterbatasan air menjadi tantangan dalam pemadaman, sementara kondisi lahan yang kering dapat membuat api lebih mudah berkembang.
Karena itu, masyarakat diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan setiap kemunculan titik api kepada petugas.
Pemerintah daerah bersama BPBD, pemerintah kecamatan dan masyarakat kini terus melakukan pemantauan untuk mencegah kebakaran meluas dan menekan dampak kabut asap terhadap aktivitas serta kesehatan warga. (SY)











