Daerah

Dari Potensi Laut ke Ekonomi Rakyat, IPB University Kembangkan Budidaya Lobster di Simeulue

×

Dari Potensi Laut ke Ekonomi Rakyat, IPB University Kembangkan Budidaya Lobster di Simeulue

Sebarkan artikel ini
Teks foto: Tim Ekspedisi Patriot IPB University bersama Pemerintah Kabupaten Simeulue membahas pengembangan budidaya ikan air tawar dan lobster. (HD/HUC)

HarianUpdate.com | Simeulue – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University mendorong pengembangan budidaya perikanan air tawar dan marikultur di kawasan transmigrasi Kabupaten Simeulue, Aceh. Program tersebut diarahkan tidak sekadar menjadi proyek percontohan, tetapi sebagai langkah membangun mata rantai ekonomi baru berbasis potensi perikanan lokal.

Tim yang dipimpin Dr. Irzal Effendi tersebut beranggotakan Fina Tanjung, S.Pi., Dhara Devona, S.Pi., Yesi Limbong, S.Pi., Okto Ijen, S.Pi., M.Si., dan Berli Adam Sah, S.Pi.

Pengembangan ini merupakan tindak lanjut hasil kajian TEP IPB University pada 2025. Hasil kajian tersebut kini mulai diterjemahkan ke dalam riset aksi berskala usaha tani atau farming research.

Dua sektor menjadi fokus utama, yakni budidaya ikan air tawar, khususnya lele, serta marikultur dengan komoditas bernilai ekonomi seperti kerapu dan lobster.

Budidaya ikan air tawar dinilai penting untuk memperkuat ketersediaan sumber protein bagi masyarakat Simeulue. Sebagai wilayah kepulauan, pasokan ikan di daerah tersebut pada waktu tertentu dapat menghadapi kendala, terutama saat cuaca ekstrem pada musim barat dan musim peralihan.

Di sisi lain, kebutuhan masyarakat terhadap ikan tetap berlangsung. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi pengembangan budidaya air tawar sebagai salah satu alternatif untuk menjaga kesinambungan pasokan.

Berdasarkan kajian TEP IPB University, komoditas lele dan nila dinilai memiliki prospek pasar yang cukup kuat di Simeulue.

Pengembangan lele dirancang secara terintegrasi mulai dari pembenihan, pendederan hingga pembesaran. Teknologi yang digunakan antara lain kolam dan bak bulat berbahan terpal. Tim juga merencanakan penggunaan induk unggul yang didatangkan dari Banda Aceh serta pengembangan pakan secara mandiri.

Selain budidaya air tawar, sektor kelautan menjadi perhatian penting dalam program tersebut, terutama pengembangan lobster.

Perairan Simeulue selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan dalam rantai pasok benih bening lobster (BBL). Potensi tersebut dinilai perlu dikembangkan lebih jauh agar nilai ekonominya tidak berhenti pada komoditas mentah, tetapi dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat setempat.

Salah satu arah pengembangan yang ditawarkan adalah pendederan lobster hingga ukuran sekitar 10–50 gram per ekor.

Pengembangan budidaya juga dinilai relevan dengan perubahan kebijakan terkait perdagangan BBL. Penguatan teknologi budidaya di tingkat lokal diharapkan mampu menciptakan nilai tambah sebelum komoditas tersebut masuk ke pasar yang lebih luas.

Teknologi land-based aquaculture memungkinkan kegiatan pendederan dilakukan di darat menggunakan bak dengan sistem resirkulasi atau recirculating aquaculture system (RAS).

Sementara di laut, pengembangan dapat dilakukan melalui keramba jaring apung, jaring tenggelam maupun keramba jaring dasar laut.

Model tersebut membuka peluang bagi Simeulue untuk tidak hanya menjadi wilayah penghasil sumber daya, tetapi juga berkembang menjadi kawasan produksi komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi.

Pengembangan teknologi budidaya, menurut TEP IPB University, tidak akan berjalan optimal tanpa kesiapan sumber daya manusia dan kelembagaan.

Karena itu, program tersebut juga mencakup pelatihan, percontohan dan pendampingan bagi para transmigran serta masyarakat di sekitar kawasan transmigrasi.

Percontohan budidaya lele direncanakan dilaksanakan di kawasan transmigrasi Sigulai. Sementara pengembangan pendederan lobster akan dikerjasamakan dengan pihak-pihak yang memiliki minat dan kapasitas untuk mengembangkan usaha tersebut.

Masyarakat dalam program ini tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi didorong menjadi pelaku utama kegiatan ekonomi.

Rencana kegiatan Ekspedisi Patriot IPB University 2026 telah dipaparkan dalam rapat bersama Pemerintah Kabupaten Simeulue. Pertemuan tersebut dipimpin Asisten III yang mewakili Sekretaris Daerah dan dimoderatori Mukhri Mayadi, S.E.

Pertemuan turut dihadiri Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Kepala Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan, unsur Dinas Kelautan dan Perikanan serta staf Bappeda.

Dalam pembahasan tersebut, pemerintah daerah menilai program pengembangan kawasan transmigrasi membutuhkan dukungan lintas perangkat daerah agar pelaksanaannya tidak berjalan secara sektoral.

Ketua TEP IPB University, Dr. Irzal Effendi, mengatakan pengembangan Ekspedisi Patriot membutuhkan kerja sama yang kuat antara IPB University dan Pemerintah Kabupaten Simeulue.

Menurutnya, kolaborasi tersebut dapat menjadi bagian dari pengembangan pusat ekonomi biru di Simeulue, khususnya melalui sektor kelautan dan perikanan.

IPB University juga menawarkan kerja sama lanjutan dalam pengembangan kawasan transmigrasi dan sektor kelautan-perikanan melalui pendidikan, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat.

Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Kasirman, S.E., menyambut positif gagasan tersebut. Ia berharap pengembangan budidaya lobster tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi berkembang menjadi mata rantai ekonomi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Semoga budidaya lobster ini bisa menjadi kran ekonomi rakyat Simeulue, dengan rantai ekonomi yang terjaga dari hulu sampai hilir,” ujar Kasirman.

Harapan tersebut sekaligus menempatkan penguatan ekosistem usaha sebagai tantangan utama program. Pengembangan pembenihan, pendederan, pembesaran, pakan, tenaga kerja, kelembagaan hingga pemasaran perlu dibangun secara terintegrasi agar potensi perikanan Simeulue mampu menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Bagi Tim Ekspedisi Patriot IPB University, pengembangan kawasan transmigrasi pada akhirnya bukan sekadar memindahkan pusat kegiatan ekonomi ke wilayah baru. Lebih dari itu, masyarakat perlu dibekali pengetahuan, teknologi dan kelembagaan agar mampu mengelola sumber daya di sekitarnya secara mandiri dan berkelanjutan. (HD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *